Aku hanya mondar-mandir di depan kamar yang berlawanan ini sedari tadi. Setelah cukup lama aku mondar-mandir ke sana ke mari, aku mencoba mengintip melalui kaca lebar yang membentang itu menyaksikan bagaimana para dokter mengoperasi adikku. Sesaat kemudian aku melangkah ke satu ruangan dibalik ruang ini, di sana juga aku melihat seseorang yang aku sayangi terbaring pasrah atas apa yang dilakukan dokter padanya. Aku di sini hanya sendiri dengan kebingunganku. “Apa yang harus aku lakukan? Beri aku petunujuk, Tuhan! Selamatkan mereka berdua! Engkau pasti tahu bahwa aku sangat menyayangi mereka berdua.”...